Korban kyai Sodomi di pati Bertambah

Jumlah korban sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin, warga Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terus bertambah. Sampai saat ini tercatat ada 17 orang yang menjadi korban tindakan bejat yang dilakukan oleh pemulung tersebut.

kyai pati sodomi

Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengatakan, pada Kamis (23/3/2017) lalu ada seorang korban sodomi yang melapor ke Polres Karanganyar. Korban yang berusia 8 tahun itu datang dengan didampingi oleh kedua orang tuanya.

Kepada petugas, korban mengaku telah disodomi oleh Fajarudin di sebuah lokasi yang ada di Kabupaten Karanganyar beberapa waktu yang lalu. Saat ini, kondisi korban tersebut juga mengalami trauma seperti 16 korban lainnya.

Untuk memperkuat laporan, petugas juga telah mengambil visum et repertum pada tubuh korban sodomi. Hasil visum dan keterangan dari korban dan keluarga itu nantinya didalami untuk diambil langkah berikutnya baik untuk pendampingan atau penanganan lain.

Dengan adanya korban baru tersebut, saat ini jumlah korban menjadi 17 orang. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa terus bertambah, mengingat praktik sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin sudah dilakukan sejak tahun 2003.

Dia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang mengetahui adanya korban lain atau keluarganya menjadi korban untuk segera melapor ke Polres Karanganyar. Masyarakat tidak perlu risau atau malu karena identitas para korban sodomi dan keluarganya bakal dirahasiakan oleh petugas.

Tidak hanya itu, bagi korban yang melapor nantinya alam diberi pendampingan secara psikologis dan pengobatan luka fisik jika terjadi. Penanganan nantinya bakal dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karanganyar, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak, serta beberapa lembaga swasta lain yang ada.

“Dari pengakuan tersangka ada 16 korban, namum ternyata jumlahnya bertambah lagi, mungkin tersangka lupa atau berbohong, nanti akan kita dalami lagi,” ucapnya, Sabtu (25/3/2017).

Kasatreskrim Polres Karanganyar AKP Rohmat mengatakan, sejauh ini korban semuanya adalah laki-laki. Namun tidak menutup kemungkinan korban tersebut ada yang wanita, karena tersangka juga mengaku suka dengan lawan jenis dan pernah melakukan hubungan badan beberapa kali.

“Segala kemungkinan bisa terjadi dan kita terus periksa tersangka,” ucapnya.

kyai pati sodomi

Kasus kiai Sodomi Paling Menghebohkan di Indonesia

Kasus kiai Sodomi Paling Menghebohkan di Indonesia

Kasus sodomi anak 5 tahun di Jakarta International School (JIS) jadi perbincangan hangat pekan ini. Kasus ini jadi salah satu dari banyak kasus sodomi yang menghebohkan media.

Kasus JIS bukan kasus sodomi pertama yang menghebohkan media. Tahun 1996 silam kasus Robot Gedek menghebohkan media. Setelahnya Baekuni atau Babe muncul dengan menyeret 14 nama korban.

Berikut 5 kasus sodomi yang menghebohkan media Indonesia seperti

 

1.  Sodomi serta Mutilasi 14 Anak Jalanan
Kasus Baekuni atau dikenal dengan Babe sempat menghebohkan pada Mei 2010 silam. Babe didakwa kasus sodomi dan mutilasi 14 anak jalanan. Babe terbukti melanggar pasal 340 junto 365 ayat 1 KUHP dengan vonis penjara seumur hidup.

Diberitakan Solopos.com, Rabu (6/10/2010), itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang sebelumnya menuntut hukuman mati.Hakim menyebut terdakwa Babe telah terbukti membunuh 4 anak pengamen jalanan dan memotong tubuh korban.

“Itu adalah perbuatan sadis yang meresahkan masyarakat. Terdakwa mengakui itu,” ujar hakim. Usai persidangan, Babe terlihat tenang dan menyatakan menerima hukuman yang dijatuhkan padanya itu. “Iya, saya terima,” kata Babe ikhlas.

2. Robot Gedek

Sosok Kriminal Legendaris
Siswanto atau Robot Gedek jadi nama yang cukup lengendaris karena kasus yang nyaris serupa dengan babe. Robot gedek melakukan pembunuhan sadis yang disertai dengan sodomi terlebih dahulu kepada 12 anak.

Si Robot Gedek akhirnya dijatuhi hukuman mati setelah kasusnya terungkap pada 1996 silam.  Dalam aksinya, tuna wisma dan buta huruf ini selalu menyayat dan memotong tubuh korban-korbannya sebelum dibuang. Korban-korban Robot Gedek kemudian ditemukan di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur dan rawa-rawa bekas Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat.

Hingga kini hanya delapan dari 12 korban yang berhasil ditemukan. Lima korban ditemukan di Pondok Kopi dan dua lainnya di sekitar Bandara Kemayoran. Sedangkan satu korban lagi, hingga kini masih belum ditemukan oleh polisi.

Diduga Sodomi Santri kyai sodomi Dibekuk

S

uatu ketika, guru ngaji sedang berdua dengan salah santrinya AG. Lalu, diintip oleh warga. Ternyata terdengar ada desahan. Maka saat keluar langsung digerebek dan dinterogasi. Akhirnya, kyai pati ngaji itu mengakui perbuatannya. Mendengar adanya tindakan itu, polsek Pasongsongan langsung mengamankan pelaku. Namun, karena kasusnya melibatkan anak-anak, maka diserahkan ke Polres Sumenep.

Sementara yang menjadi korban sodomi adalah Ahmad Andi Gufron anak dari Suti, Ahmad Mustofa, Zaenuddin, Hari, dan Ahmad Aidi Gufron, juga anak Suti. Mayoritas korbannya adalah siswa SD.

Kapolres pati Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana melalui Kasubag Humas AKP Hasanuddin menjelaskan, tadi ada penyerahan tersangka sodomi anak dibawah umur dari Pasongsongan. ” Saat ini tersangka sedang  menjalani pemeriksaan intensif Unit PPA” katanya.

Dia mengungkapkan, tersangka akan dijerat dengan pasal 81 dan 82 UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU No 35 tahun 2014. Sementara ancaman hukuman pada pelaku kejahatan seksualminimal 5 tahun penjara, dan maksimal 15 tahun penjara serta denda minimal sebesar Rp60 juta dan maksimal sebesar Rp 300 juta.

“Tersangka dijerat dengan KUHP pasal 287 dan 292 menyebutkan, masa hukuman terhadap pelaku pencabulan terhadap anak maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292),

Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati

 Tapanuli Selatan: Penangkapan terhadap pelaku sodomi Samsul Anwar Harahap menguak fakta baru. Pria asal Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut, itu juga memangsa beberapa bocah di Jakarta.
“Aksi sodomi yang dilakukan Samsul terjadi mulai tahun 2004. Awalnya, melakukan aksi pencabulan terhadap lima anak di Jakarta Timur. Tapi dia mengaku tidak ingat identitas korbannya,” ujar Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtama ketika dikonfirmasi, Senin 20 Maret 2017.
Samsul berada di Ibu Kota Negara selama dua tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang, pati Jawa Tengah, pada 2006. “Dia di Semarang hingga 2011, mengaku tidak melakukan perbuatan cabul,” katanya.
Pertengahan 2011, Samsul pindah ke Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Samsul di sana hingga 2013. Di situ, dia menyodomi tujuh bocah.
Setelah itu, karena tidak lagi bekerja, Samsul pulang kampung pada tahun 2013. Di sinilah ia melakukan perbuatan cabul terhadap korbannya sebanyak 30 anak. Perbuatan itu dilakukannya dalam rentang waktu empat tahun.
“Jadi total korbannya itu ada 42 anak,” imbuh Rony.
Atas perbuatannya Samsul dijerat Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Ancamannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.
The post Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati appeared first on tabloidpati.top.

Powered by WPeMatico

pati sodomi – sekolah

Dampak Sodomi Terasa Hingga Kemudian Hari

Ada banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini, tapi tidak semua korban mau dan berani melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Salah satu kasus pelecehan seksual yang cukup mendapat banyak sorotan adalah sodomi. Akibat dari sodomi sendiri bisa memengaruhi baik fisik maupun psikologis korbannya secara jangka panjang.

Sodomi adalah seks anal atau oral; atau aktivitas seksual antara manusia dan non-manusia (binatang); atau setiap aktivitas seksual untuk kesenangan semata. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi adalah pencabulan dengan sesama jenis kelamin atau dengan binatang; sanggama antarmanusia secara oral atau anal, biasanya antarpria; semburit (persetubuhan sesama lelaki; perjantanan).

dampak sodomi terasa hingga kemudian hari - alodokter

Dampak sodomi secara fisik dan psikis

Sodomi berdampak pada fisik dan mental korban. Secara fisik, korban bisa menderita penyakit kulit eritema, fisura anal (anus robek), bekas luka perianal, kutil dubur, iritasi usus besar, dispepsia non ulkus (nyeri di perut bagian atas), nyeri perut kronis, nyeri panggul kronis, HIV, dan penyakit menular seksual. Korban juga dapat menderita gangguan otot anus seperti encopresis (buang kotoran di celana), dan nyeri saat buang air besar.Sedangkan secara psikis, korban sodomi dapat menderita ketakutan, kecemasan, mudah marah, gangguan tidur, gangguan makan, merasa rendah diri, depresi,  memiliki ketakutan yang berlebihan, merasa gugup, stres, menyalahgunakan alkohol dan narkoba, memiliki masalah dalam hubungan intim, tidak berprestasi di kantor, hingga mencoba bunuh diri.

Bila sodomi terjadi pada anak-anak, bisa saja ia ketinggalan pelajaran di sekolah. Namun, pelecehan terhadap anak jarang terdeteksi karena mereka sering kali takut mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dialami.

Dan jika yang menjadi korban sodomi adalah pria, ada tambahan efek samping jangka panjang. Contohnya merasa tertekan membuktikan kejantanannya secara fisik dan seksual, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.

Hukum yang mengatur tindak kejahatan sodomi di Indonesia

Mengapa ada orang yang suka melakukan hubungan seksual lewat anal atau sodomi? Alasannya bermacam-macam, mulai dari menuntut kepuasan seksual dari pasangan, bingung dengan orientasi seksual sendiri, mempermalukan korban, hingga merasa memiliki kekuasaan dan kontrol terhadap korban. Istilah sodomi belum dikenal dalam hukum pidana di Indonesia. Walaupun belum diatur secara khusus, perbuatan sodomi dapat dikategorikan sebagai pencabulan. Sehingga dalam praktiknya, kasus sodomi dikenakan dengan pasal-pasal tentang pencabulan.

Pelaku pencabulan (termasuk sodomi) dapat dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Jika sodomi dilakukan sesama jenis terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku adalah orang dewasa, pelaku tersebut akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya lima tahun.

Sementara itu, perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur diatur secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak lima miliar rupiah.

Jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika Anda melihat, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual sodomi. Dan jangan lupa untuk menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI AKN ) jika korban yang Anda kenal masih anak-anak.

Kasus sodomi yang menyeret kyai

Kasus sodomi yang menyeret kyai Salimuddin bin Nahrawi warga Dusun Murasen, Desa Pasongsongan Sumenep AKN sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri (kejari) Sumenep. Berkas kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap alias P21 oleh jaksa penuntut umum (JPU). AKN
Sementara tersangka juga sudah dilimpahkan oleh Polres ke kejari., dan oleh tim Kejari langsung dititipkan di rumah tahanan (rutan) kelas II B Sumenep. “Berkas dan tersangka sudah dilimpahkan ke jaksa. Dan, kami nyatakan berkasnya pati sudah lengkap,” kata Kasi Pidum Ricky Andi F. kyai AKN

Dia mengungkapkan, pihaknya tinggal memproses tersangka ke pengadilan untuk disidangkan. “Nanti akan segera kami proses ke PN agar segera disidangkan. Masalah waktu ya tergantung kepada hakim pengadilan,” ucapnya.
Menurut Ricky, atas perbuatan yang dilakukan tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 ayat 2 dengan undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.
Salimuddin   kiai yang kabarnya sebagai tokoh masyarakat ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Itu setelah polisi mendapatkan laporan dari jika Salimuddin kiai melakukan sodomi terhadap anak di bawah umur yang diduga santrinya. Bahkan, kejadian tersebut digerebek wali. Korbannya sebanyak 6 orang. yas / AKN

Powered by WPeMatico

kiai Ngaji di pati Tertangkap Basah Sodomi Murid

TEMPO.COSumenep pati – Warga Dusun Morassen, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, menggerebek rumah milik seorang berusia 50 tahun. Lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai guru ngaji ini diduga berbuat asusila kepada sejumlah muridnya.

“Korban diduga lebih dari satu dan mayoritas di bawah umur,” kata Kepala Humas Polres Sumenep, Ajun Komisaris Hasanuddin, Jumat, 12 Februari 2016.

Menurut Hasan, saat ini tersangka beserta sejumlah saksi dan para korban sodomi tengah menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sumenep. “Karena korbannya di bawah umur, kasusnya ditangani unit PPA,” ujar dia.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sumenep, Ajun Komisaris I Gede Pranata Wiguna mengatakan korban sodomi oleh guru ngaji sejauh ini empat orang. Satu korban, kata dia, disodomi lebih dari satu kali. Sedangkan korban lainnya hanya satu kyai kali AKN. “Rata-rata korban berusia 14 sampai 17 tahun,” ungkap dia.

Modusnya, Pranata menjelaskan, para korban diiming-imingi uang dan rokok oleh pelaku. Setelah termakan bujuk rayu, pelaku akan mengajak para remaja itu untuk menginap di kamarnya AKN. “Saat itulah mereka disodomi,” kata dia lagi.

Sementara itu, aparat Desa Pasongsongan, Abdul Saed menuturkan bahwa kabar tersangka menyodomi muridnya sudah beredar sejak lama. Namun warga tidak percaya karena tersangka adalah seorang guru ngaji AKN.

Sampai akhirnya pada Jumat pagi, kata Saed, terdengar suara desahan dari kamar tersangka. Warga pun menggedor pintu kamarnya, namun pelaku tidak kunjung keluar. “Akhirnya diintip dari lubang kunci, ternyata dia gituan sama seorang muridnya berinisial AG AKN,” kata dia.

Awalnya tersangka mengelak melakukan sodomi. Karena tak kunjung mengaku tersangka akhirnya dibawa ke balai desa Pasongsongan untuk disidang. Menurut Saed, tersangka akhirnya mengakui setelah dihadapkan pada sejumlah korbannya. “Akhirnya kami serahkan ke polisi,” kata dia.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 81 dan 82 Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-undang No 35 tahun 2014. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun penjara.

Sodomi Santri Guru Ngaji ditangkap

Sebenarnya, kabar Alimuddin kyai, 50, suka menyodomi muridnya sudah lama terdengar dari mulut ke mulut. Tetapi, warga tidak memercayainya. Sebab, yang tinggal di Dusun Sumur Asin, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, itu diketahui sebagai guru ngaji di lingkungannya.
 

Warga pati baru percaya setelah memergoki langsung Alimuddin sedang menyodomi muridnya berinisial AG, 16. Tak ayal, selain menggerebek pelaku, para orang tua korban juga melaporkan anggota BPD Pasongsongan itu ke polisi.
Karena mendapat laporan, anggota Polsek Pasongsongan akhirnya menangkap Alimuddin di rumahnya, Kamis malam (11/2). Sementara pelaku dikirim ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Sumenep.
”Setelah diinterogasi sebentar di mapolsek, pelaku langsung dibawa ke Polres Sumenep,” kata Kepala Desa (Kades) Pasongsongan Rasit Busanto kepada wartawan.
Dikonfirmasi, Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin membenarkan mendapat pelimpahan pelaku sodomi anak di bawah umur dari Polsek Pasongsongan. Hasan menjelaskan, pihaknya menahan Salimuddin alias Alimuddin karena menerima laporan resmi dari para orang tua korban.
”Ada lima orang yang melapor, yaitu orang tua korban berinisial AAG, MRF, AM, GS, dan ZH. Pelapor juga menyerahkan barang bukti berupa pakaian kelima korban,” jelasnya kemarin (12/2).
Selain barang bukti pakaian korban, lanjut Hasanuddin, akan ada bukti visum yang akan dikeluarkan oleh petugas medis. ”Nanti akan kami lengkapi dengan bukti visum,” tambahnya.
Penyidik PPA juga sudah meminta keterangan empat korban beserta orang tuanya. Tinggal satu korban lagi yang belum dimintai keterangan.
Kemungkinan, lanjut mantan Kapolsek Manding itu, masih banyak korban lainnya yang tidak melapor. Sebab, pengakuan pelaku kepada penyidik, perilaku menyimpang itu sudah lama dia lakukan.
Namun, baru terungkap di balai desa beberapa waktu lalu. Setelah ini, Polres Sumenep akan mengorek keterangan, baik kepada korban maupun tersangka dan keluarganya.
”Nanti akan kami kembangkan,” janjinya.
Kepada penyidik, bapak dua anak tersebut mengatakan, murid yang disodomi berusia 14 hingga 17 tahun. Ada yang disodomi satu kali, ada juga yang berkali-kali.
Tiap kali mau melakukan aksi abnormalnya itu, Alimuddin merayu korban dengan iming-iming uang dan rokok. Setelah korban berhasil dirayu, pelaku mengajak korbannya itu bermalam di kamarnya dan disodomi.
Akibat perbuatannya, Alimuddin terancam Pasal 81 dan 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU No 35 Tahun 2014. Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. Denda minimal Rp 60 juta dan maksimal Rp 300 juta.
Sementara berdasar KUHP, hukuman bagi pelaku pencabulan terhadap anak dijerat Pasal 287 dengan maksimal hukuman 9 tahun penjara dan Pasal 292 maksimal 5 tahun penjara pati

Powered by WPeMatico

Uang Dan Rokok, Satu Kiai Sodomi 5 Muridnya

Kasus pencabulan lima anak oleh seorang Kiai berinisial AM (50), Dusun Morasen, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura pati, Jawa Timur ternyata korban dijanjikan uang dan rokok.
“Pengakuan korban, modus pelaku mengiming-imingi korban dengan uang dan rokok,” ungkap Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP I Gede Pranata Wiguna, Jumat (12/02/2016).
Kelima korban mayoritas berumur 14-17 tahun itu mengaku tidak hanya sekali disodomi oleh kyai AM, namun ada yang sudah dua kali. Dan bahkan korban melakukan aksinya tidak hanya ditempat tidurnya. Melainkan ditempat ngajipun kyai pati AM  melakukan aksinya.
“Satu korban mengaku disodomi lebih dari satu kali. Sedangkan korban lain, mengaku hanya satu kali disodomi pelaku,” jelasnya.
Modus yang dilakukan pelaku kepada targetnya denga menjanjikan uang dan rokok pada korban. Ketika rayuannya masuk kepada targetnya, pelaku langsung mengajak korban ngobrol-ngobrol, kemudian meminta menemaninya tidur.
“Saat korban berada di kamar tidur, pelaku kemudian melakukan sodomi pada korban.

Powered by WPeMatico

Puluhan Siswa Korban Pelecehan sodomi melapor

Buronan kasus sodomi, Teguh Umbartono alias Pakde (40) warga Pati, Jawa Tengah (Jateng) tewas bunuh diri saat dibawa aparat Polda DIY dari Pati ke Yogya, Selasa (23/8). Pakde nekat menusukkan pisau ke perutnya saat mobil polisi berhenti di wilayah Magelang. Ia kemudian mengembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit.
Kapolses Sleman AKBP Yulianto didampingi Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pujiastuti kiai mengatakan, Pakde kyai ditetapkan sebagai tersangka dugaan sodomi pada empat bulan silam. Begitu tahu dirinya dilaporkan, tersangka langsung melarikan diri.
“Ada sekitar 30 orang lebih jadi korban. Tapi yang melapor baru tiga orang, selebihnya mau melapor setelah pelaku tertangkap,” katanya.
Dijelaskan Kapolres, aksi cabul pelaku dilakukan sekitar satu tahun hingga dua tahun lalu. Korban rata-rata merupakan pelajar SMA dan mahasiswa. Setelah empat bulan melakukan penyelidikan, kata Kapolres Sleman, polisi mengendus keberadaan tersangka di wilayah Pati. Tim kyai gabungan dari Polres Sleman dan Polda DIY kemudian memburu Pakde pada Senin (22/8) pagi. Dia pun berhasil dibekuk dan langsung dibawa ke Yogya menggunakan mobil.
Kemarin pagi sekitar pukul 03.00, polisi yang membawa tersangka sampai di Magelang. Saat itu tersangka mengeluh haus, kemudian oleh petugas dibelikan minum. Mobil kemudian berhenti di SPBU Sambung di daerah Payaman, Kecamatan Secang, Magelang. Kemudian petugas membelikan minum di sebuah warung. Namun sekembalinya dari warung, petugas mendapati tersangka sudah menusukkan pisau ke dalam perutnya.
“Pisau itu milik pelaku sendiri yang diamankan bersamaan dan dijadikan barang bukti,” ujar AKBP Yulianto.
Melihat tersangka bersimbah darah, polisi lantas membawa Pakde ke RSUD dr Soeroyo, Kota Magelang dan dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta.  Namun sesampainya di Yogya, tersangka dinyatakan sudah tewas.
“Penangkapan dilakukan oleh 11 anggota dari kiai Tim Satreskrim Polres Sleman serta Tim Opsnal dari Polda DIY sejak Senin (22/8). Saat itu petugas membawa tiga buah mobil, tersangka dan barang bukti dijadikan dalam satu mobil dikawal empat orang petugas,” kata Kapolres Sleman.
Kapolres menduga pelaku nekat mengakhiri hidupnya dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Tersangka mengambil pisau yang merupakan salah satu barang bukti kemudian menusukkan ke perut. “Kami belum tahu pelaku meninggal di lokasi kejadian atau saat di rumah sakit. Proses detailnya seperti apa masih diselidiki. Saat ini masih dilakukan otopsi di RS Sarjito,” ujar Kapolres. Hingga semalam, polisi masih memeriksa sejumlah saksi kejadian ini. Termasuk anggota reserse yang ikut menangkap tersangka dari Pati

Powered by WPeMatico